Perkembangan Makna Qirādah QS. Al-A’raf Ayat 166 (Analisis Teori Linguistik Transformatif Noam Chomsky)
DOI:
https://doi.org/10.64341/jiqsi.v3i2.48Abstrak
Perkembangan makna kata dalam teks Al-Qur'an sering kali dipengaruhi oleh konteks sosial, sejarah, dan metodologi tafsir yang digunakan. Salah satu kata yang memiliki pemaknaan lebih luas ialah kata qirādah (كِرَادَةٌ) yang terdapat dalam QS. Al-A'raf ayat 166. Makna qirādah sering dipahami secara literal sebagai “kera”, namun pemahaman ini belum mencakup seluruh dimensi makna yang terkandung dalam teks tersebut. Makna luar yang terdapat pada kata qirādah (kera) memiliki kejanggalan terhadap perubahan yang terjadi pada Bani Israil. Sebab, tidak ditemukan fakta sejarah yang membuktikan pernyataan tersebut. Untuk itu, penelitian ini berusaha mengungkap pemaknaan yang mendalam terhadap makna kata qirādah melalui teori linguistik yang digagas oleh Noam Chomsky. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan mengunakan teori linguistik transformatif yang digagas oleh Noam Chomsky sebagai pisau analisisnya yakni antara deep structure dan surface structure dalam bahasa. Teori ini akan diterapkan untuk menganalisis bagaimana makna qirādah dapat berkembang dalam konteks QS. Al-A'raf 166, dengan memperhatikan perubahan dalam struktur bahasa yang ada pada teks tersebut. Langkah teorinya mencakup analisis struktur kalimat dan transformasi makna yang terjadi dalam pemahaman teks, baik dari sisi linguistik maupun teologis. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan linguistik transformatif, makna qirādah tidak hanya terbatas pada hukuman fisik berupa perubahan bentuk menjadi kera, tetapi juga dapat dipahami sebagai simbol perubahan moral, sifat, dan sosial yang lebih dalam.
Diterbitkan
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Adinda Fatimah Rahmawati (Penulis)

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





